Logika Fuzzy merupakan suatu logika yang memiliki nilai kekaburan atau kesamaran (fuzzyness) antara benar atau salah. Bisa dibilang logika ini digunakan untuk merepresentasikan sesuatu yang tidak pasti atau masih samar. Aku merasa deja vu. Pikiranku langsung menuju saat aku duduk di kelas 8 SMP. Logika ini saat amat pas untuk merepresentasikan hubunganku dengan seorang laki-laki bernama Daffi.
Daffi dulunya adalah sahabatku sekaligus tetangga dekatku. Ia juga sepupunya Daffa. Nama mereka hampir sama karena katanya dulu kakek mereka yang memberikan nama kepada mereka. Aku lebih dekat dengan Daffi dibandingkan Daffa karena kami sama-sama lahir di tahun 2003. Daffi lahir bulan Mei dan aku lahir bulan Agustus. Dari kecil kalo aku kemana-mana pasti sama dia. Bahkan kalau dipikir-pikir, aku lebih dekat dengan Daffi dibandingkan Anggi, kembaranku sendiri. Saat ibunya mengajak Daffi pergi, aku sering ikut. Begitupun sebaliknya. Nggak jarang orang yang menganggap kami kembar karena saking seringnya bersama. Seiring bertumbuh dewasa, kami justru semakin dekat. Bahkan saat Daffi baru belajar mengendarai motor saat kelas 7, aku adalah orang pertama yang diboncengnya untuk jalan-jalan.
Hingga kami sadar kalo benih-benih cinta itu mulai tumbuh--meskipun saat itu kami masih kecil. Makanya statement 'nggak ada persahabatan antara cowok dan cewek' selalu aku setujui. Kami nggak pernah ada yang menyatakan cinta, bahkan saat temen-temen SD kami banyak yang pacaran ala-ala cinta monyet. Tapi saat ada yang tanya kami pacaran atau enggak, kami nggak pernah jawab, pasti selalu dijawab dengan senyuman salting. Mungkin karena itu banyak yang menganggap kami pacaran, padahal mah statusnya belum jelas. Dibilang pacar bukan, dibilang sahabat aku ngerasanya lebih dari itu. Aku nggak tau ini menurutku aja atau menurut Daffi juga gitu, meskipun nggak pernah ada yang menyatakan cinta tapi kami bisa saling merasakannya. Apa banget ya bahasanya, tapi emang begitu adanya.
Sampai hari yang menjadi hari terburuk sepanjang hidupku setelah kedua orang tuaku bercerai itu tiba. Pertengahan kelas 8, keluarga Daffi tiba-tiba mengumumkan akan pindah ke luar kota. Rasanya hatiku langsung teriris-iris. Pasalnya waktu itu belum genap setahun semenjak kedua orang tuaku bercerai, yang artinya luka lamaku belum kering dan saat itu harus ditambah luka lagi. Tepat sehari sebelum kepindahan Daffi dan keluarganya, cowok itu mengajakku berbicara serius (deeptalk) empat mata. Dan saat itulah akhirnya Daffi mengungkapkan perasaannya padaku. Meskipun aku sebenarnya sudah mengetahui hal itu, tapi rasanya setelah dia mengungkapkannya secara langsung tetap membuatku terkejut. Aku speechless dan aku bingung harus bereaksi apa. Belum sempat aku membalas ungkapan perasaannya, dia justru bangkit dan meninggalkanku begitu saja sebelum ia mengacak rambutku pelan. Aku masih ingat deretan gigi putihnya saat ia tersenyum sebelum meninggalkanku dengan kedua matanya yang menyipit. Ekspresi senyum yang selalu berhasil membuatku bahagia hanya dengan melihatnya.
Setelah itu semuanya tampak biasa-biasa saja. Daffi seakan menghilang begitu saja tetapi dengan membawa ketidakjelasan bagiku. Aku benar-benar bingung. Aku nggak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun. Anggi, Mbak Ninda, atau Daffa pun enggak pernah tau. Aku memendamnya sendirian. Rasa sakit itu tetap bersemayam selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang saat aku sudah punya tambatan hati yang baru. Yang lebih parahnya lagi, aku lost contact dengan Daffi. Padahal Daffa masih bisa berkomunikasi dengan Daffi. Lebih dan lebih parahnya semua akunku diblock setelah aku spam. Tapi beberapa kali ia masih mengirimiku salam lewat Daffa. Sepupunya itu juga bingung kenapa enggak menghubungi aku langsung saja, tapi katanya Daffi dia enggak pengen aku terus kebayang-bayang dia. Bukannya dengan titip salam (meskipun jarang) juga tetep buat aku kebayang-bayang? Entahlah, rasanya aku nggak bisa nebak pola pikirnya sampe sekarang. Daffa yang menganggapku dengan Daffi pacaran dan putus setelah Daffi pindah menyarankanku untuk move on dari Daffi. Firasatku pun bilang, aku harus melupakan Daffi. Jadi mulai saat itu, aku mencoba untuk melupakannya. Meskipun tak dapat dipungkiri perasaan ini nggak bisa hilang 100% dan aku yang selalu mengharap mendapat kepastian setelah ia mengungkapkan perasaannya, tapi aku tetap merasa berhasil tidak terbelenggu dengan bayang-bayang Daffi.
Setelah Daffi pergi, aku menjadi lebih dekat dengan Daffa dan kedua sahabatnya, Pilar dan Juno. Meskipun ketiga orang itu satu tahun lebih tua dariku, tapi aku nggak pernah memanggil mereka dengan embel-embel mas atau kak. Karena kami semua satu angkatan. Dulu Anggi yang nggak sabar pengen cepet-cepet sekolah membuatku harus mengikutinya untuk bersekolah satu tahun lebih awal dari umumnya. Aku pun mengajak Daffi, sehingga ia juga satu angkatan denganku dan juga Daffa serta yang lainnya. Aku menghela nafas, sepertinya kehidupanku dulu enggak bisa lepas dari yang namanya Daffi.
Banyak yang selama ini mungkin bertanya-tanya kenapa aku nggak bisa suka dengan Daffa padahal cowok itu jelas-jelas suka sama aku. Sekarang aku akan menjawab rasa penasaran kalian semua. Setelah kalian baca sampai sini pasti kalian sudah bisa menebaknya. Yups, yang membuatku enggak bisa suka sama Daffa jelas-jelas karena Daffi. Selain nama yang hampir sama, tingkah laku mereka pun menurutku mirip. Meskipun wajah mereka nggak begitu mirip, tapi saat melihat wajah Daffa, rasanya langsung mengingatkanku pada Daffi. Daffa selalu membuatku terbayang-bayang oleh Daffi, begitulah singkatnya. Aku nggak mau seperti itu. Aku mau menyukai seseorang karena dia adalah dia. Bukan karena dia mengingatkanku pada yang lain. Contohnya untuk pacarku yang sekarang, aku menyukainya karena dia adalah Kak Agung. Dia punya identitas tersendiri dalam hatiku.
Aku nggak tau pasti kapan Daffa mulai suka denganku. Terlalu dekat dengan Daffi membuatku dulu nggak begitu memperhatikan Daffa. Yang jelas setelah Daffi pergi, Daffa selalu mencoba menghiburku dan membuatku dekat dengannya sekaligus mengenalkanku pada Pilar dan Juno. Pikirku dulu Daffa seperti itu karena dia kasihan denganku. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin peribahasa itu yang cocok menggambarkan keadaanku saat itu. Setelah kehilangan Anggi karena dia ikut Mama, aku juga kehilangan Daffi. Padahal mereka berdua yang menjadi sahabat terdekatku saat itu. Aku nggak begitu dekat dengan teman-teman di sekolah. Terus datanglah Daffa. Sebelumnya aku nggak begitu dekat dengannya dan menganggapnya sebatas sepupunya Daffi. Setelah kami deket, Daffa emang nggak pernah confess apa-apa ke aku. Tapi aku peka, dia memperhatikanku lebih dari sahabat. Kayak Daffi dulu, itulah yang aku katakan kalo tingkah laku mereka itu mirip. Juno juga membocorkan kalo Daffa menyukaiku. Jujur aku nggak tega kalo harus terang-terangan mengatakan aku nggak bisa suka dengan Daffa karena selalu kebayang-bayang Daffi. Beruntunglah pas SMA, Daffa akhirnya punya pacar. Juno bilang sih Daffa coba move on dariku karena selalu dianggap sebatas sahabat. Ya baguslah kalo gitu.
Oke cukup untuk Daffa. Kembali ke Daffi. Setelah sekian lama lost contact, tiba-tiba aja akun instagram Daffi mengikuti akunku. Kalo nggak salah waktu itu kita kelas 11 SMA. Fyi aku baru bikin instagram setelah Daffi pergi. Daffi juga belum punya instagram sebelum dia pergi dan memboklir akun-akunku. Saat itu rasanya usahaku untuk move on sia-sia karena aku terlalu bodoh dan memilih untuk mengikuti akunnya balik. Aku masih berharap dan ingin menanyakan segala ketidakjelasan setelah ia pergi tanpa menjelaskan maksudnya yang tiba-tiba mengungkapkan perasaannya.
Namun lagi-lagi aku harapanku setinggi awan harus dijatuhkan sejatuh-jatunya ke tanah. Saat aku stalking akunnya, aku menemukan fakta kalo dia udah pacar. Hatiku mencelos. Pikiranku menyuruhku untuk memblokirnya, tetapi perasaanku melarangnya. Fakta bahwa aku adalah seorang perempuan membuatku memilih mengikuti perasaanku. Bodoh emang. Beberapa hari setelahnya, Daffi mengirimikan direct message yang isinya meminta nomor wa-ku. Lagi-lagi aku terlalu bodoh karena telah memberikan nomorku kepadanya. Nomornya ternyata sudah berganti, bukan yang dulu. Namun setelah kami saling save nomor, nggak ada interaksi lebih. Aku juga masih terlalu sadar diri untuk enggak tiba-tiba menanyakan perihal apa maksud Daffi yang tiba-tiba mengungkapkan perasaannya sebelum pergi. Pikiran negatifku mengatakan Daffi sudah melupakan hari itu, bahkan perasaannya padaku. Buktinya dia udah punya pacar kan? Ada hal lain yang mengganjal di hatiku. Aku penasaran kenapa Daffi nggak minta nomor wa-ku langsung pada Daffa? Kenapa malah harus repot-repot ngedm aku? Tapi pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa aku pendam sendirian.
Sampai sekarang aku kuliah, Daffi telah berganti pacar selama 3 kali. Hebat. Sementara aku selama itu hanya pernah berpacaran sekali yang ujungnya membuatku sakit hati. Itupun hanya bertahan satu bulan. Ya seenggaknya sekarang aku punya Kak Agung yang lebih baik dari mantanku itu. Ngomong-ngomong tentang pacarnya Daffi, aku selalu menstalking mereka. Pacarnya yang pertama, emm lebih tepatnya yang pertama kali aku ketahui setelah Daffi mengikuti akun instagramku kala itu namanya Diah. Jiwa stalkingku yang kuat ini sampai tau detail identitas semua pacarnya Daffi. Untuk Diah ini aku tau dia seumuran denganku dan Daffi, tapi ia bersekolah normal sehingga dia satu tingkat di bawah kami. Diah ini kelihatannya manis dan imut (tapi lebih manis dan imutan aku sih wkwk). Tapi kayaknya dia tipe pacar yang cerewet dan posesif. Selang beberapa bulan, pacar Daffi berganti dengan seorang perempuan yang sangat cantik--seperti barbie yang aku ketahui bernama Nana. Aku yang cewek aja langsung terpukau dan terkesima dengan Mbak Nana (bukan Najwa Shihab) ini, apalagi Daffi yang cowok. Mbaknya ini beneran cantik bak boneka barbie. Oh ya dia dua tahun lebih tua dari kami. Kayaknya dia tipe primadona sekolah, followersnya banyak. Aku sempat tercengang dan bertanya-tanya apa Daffi menggunakan pelet untuk bisa berpacaran dengan Nana? Kemudian, selang beberapa bulan pacarnya Daffi berganti lagi. Yang ketiga ini namanya Alisya, tapi Daffi memanggilnya Lilis (tentu aku mengetahuinya dari hasil stalking). Dia setahun lebih muda dari kami. Wajahnya juga kayak barbie dan yang aku tangkap dia punya kepribadian pemalu.
Hubungan Daffi dan Alisya kalo nggak salah udah berakhir sejak Daffi lulus SMA. Sampai sekarang aku nggak tau apa Daffi punya pacar lagi atau enggak. Yang jelas dia nggak pernah update cewek lagi di akunnya. Aku mencoba nggak peduli meskipun sisi lain hatiku masih penasaran.
Takdir emang selucu ini kah? Saat aku kuliah, aku dipertemukan dengan Alisya. Dia adik tingkatku. Satu jurusan denganku. Bahkan empat digit terakhir NIM kami sama yang membuatku mengenalnya dari tugas ospek yang mewancarai kakak tingkat yang memiliki NIM dengan empat digit terakhir yang sama. Alisya mewancaraiku. Dari situlah aku mengenalnya dengan baik. Kami lumayan dekat, tapi aku sama sekali enggak pernah ngebahas Daffi dengannya.
Kehidupanku tampak normal bahkan setelah aku mengenal Alisya. Saat inipun aku merasa cukup bahagia karena di dunia perkuliahan ini aku kembali dipertemukan dengan Anggi. Alhamdulillah kami diterima di kampus yang sama. Daffa, Pilar, dan Juno juga turut merantau di kota yang sama denganku meskipun mereka beda-beda kampus. Hanya Daffa yang satu kampus denganku dan Anggi.
Kemudian, saat liburan semester aku tentu pulang kampung. Liburan semester ini menjadi lebih spesial lagi karena Masnya Daffa akan menikah. Jadi aku (serta Ayah dan Mbak Ninda tentunya) turut membantu persiapan pernikahan tersebut. Bahkan Mama dan Anggi juga ikut mempersiapkan. Hal ini menunjukkan seberapa dekat keluargaku dan keluarga Daffa.
Aku sampai lupa sesuatu. Kalau keluarga Daffa ada acara besar seperti ini berarti seluruh keluarganya akan datang. Termasuk keluarganya Daffi. Keluarga Daffi tidak mungkin tidak datang.
Dan benar saja... Mereka datang dengan anggota keluarga lengkap, termasuk Daffi.
Pertemuan yang sangat tidak aku inginkan itu tidak bisa aku hindari.
Sampai akhirnya Daffi mengajakku untuk berbicara berdua. Sebenarnya aku masih trauma, tapi kembali lagi, aku terlalu bodoh karena menuruti kata hatiku. Jujur aku sangat merindukannya. Wajahnya masih sama--hanya saja sekarang rahangnya bertambah tegas. Senyumnya juga masih sama. Meskipun matanya nggak sesayu dulu, tapi secara garis besar masih sama. Hatiku masih yakin kalau dia masih Daffi yang sama. Masih Daffi yang mengatakan "i love you enggar" bertahun-tahun silam yang meninggalkan ketidakjelasan sampai sekarang.
"Gue benci banget sama elo, Daff" adalah kalimat yang ingin aku sampaikan pada Daffi setelah aku bertemu dengan Daffi. Namun nyaliku enggak sebesar itu.
"Apa kabar Nggar?" menjadi pertanyaan pembuka dari Daffi yang mengawali obrolan kami.
Pengen rasanya aku jawab aku nggak pernah baik-baik aja setelah ditinggal dia, tapi kok rasanya terlalu hiperbola. Padahal faktanya aku masih bisa bahagia dan menikmati kehidupanku sebagai Enggar Jian Shakira seperti sebelumnya. Meskipun itu semua perlu waktu. Beruntung ada ketiga babuku itu. Eh, maksudnya Daffa, Pilar, dan Juno.
"Baik. Lo sendiri gimana?" tanyaku balik. Ya basa-basi aja.
"Baik juga. Gue kangen sama lo, Nggar." Kangen? Aku nggak salah denger?
"Kalo kangen kenapa nggak pernah ngechat gue?" Baiklah, aku mulai berani.
"Takut ganggu."
"Alasan lo nggak masuk akal. Dulu semua akun gue lo blockir terus lo malah titip salam ke Daffa. Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo."
"Maaf..."
"Ya udahlah. Udah berlalu juga."
Kemudian hening begitu saja. Aku sangat canggung. Ingin rasanya pergi meninggalkan Daffi sekarang, tapi hatiku masih ingin tetap menunggu sampai Daffi menjelaskan semuanya.
"Setelah lo pake kacamata, lo jadi tambah cantik Nggar."
"Makasih."
Terus hening lagi. Hfft. Aku menghela nafas panjang.
"Daffi... lo... lo sekarang ngerokok ya?" Entah mengapa pertanyaan itu muncul begitu saja. Aku merutuki diriku sendiri setelahnya. Mana sopan jika aku bertanya demikian.
"Iya. Tapi gue nggak bakal ngerokok deket lo, kok. Gue nggak mau lo kenapa-napa." Jujur aku merasa kecewa. Sebenarnya aku sudah bisa menebak kalau Daffi perokok aktif. Tampilan Daffi juga makin urak-urakan. Padahal dia dulu nggak begini. Daffi yang gue kenal dulu anak yang baik dan nggak macam-macam.
"Lo kenapa ngerokok?" Baiklah, aku semakin berani.
"Buat ngelepas masalah gue, paling? Setelah ngerokok gue merasa lebih tenang."
"Emang dengan ngerokok semua masalah lo bisa selesai? Lo juga harus inget, ngerokok nggak baik buat kesehatan. Ngerokok malah nantinya bisa nambah masalah," ujarku sok menasihati.
"Iya bawel, gue juga berusaha buat ngurangi ngerokok sekarang," jawabnya sambil mengacak rambutku.
"Eh sorry sorry. Lo kan udah punya pacar ya sekarang? Pacar lo marah nggak kalo gue ngacak-ngacak rambut pacarnya?" tanyanya kemudian.
"Nggak. Sebenarnya tujuan lo ngajak gue ke sini buat apa, Daff? Gue nggak enak soalnya di rumahnya Daffa banyak kerjaan."
"Seperti yang udah gue bilang di awal, gue kangen sama elo, Nggar. Di rumahnya Daffa banyak orang sekarang, keluarga dan tetangganya banyak, lo nggak perlu khawatir."
Aku lagi-lagi menghela nafas. "Daff, gue boleh tanya sesuatu ke lo?" Sepertinya aku juga harus memberanikan diri untuk menanyakan tentang itu.
"Boleh lah. Kenapa harus nanya dulu sih, Nggar. Santai aja."
"Kenapa dulu lo nggak ngasih gue kesempatan buat jawab?"
"Maksudnya?"
"Oh... mungkin lo udah lupa ya. Ya udahlah," ujarku sedikit sewot.
Daffi memejamkan matanya sekejap, kemudian menggigit bibir bawahnya. "Maksud lo sehari sebelum gue pindah kan?"
Aku hanya mengangguk kecil.
"Tapi gue nggak pernah mengharapkan jawaban dari lo, Nggar. Gue nggak nembak elo waktu itu."
Setetes air mata dari mata kananku terjun bebas. Hatiku terasa sesak. Padahal ini semua sudah bertahun-tahun silam, tapi rasanya tetap sakit. "Terus kenapa lo nyatain perasaan lo ke gue? Lo keterlaluan, Daff. Setelah itu lo pergi gitu aja, saat gue berusaha buat minta penjelasan ke elo, lo malah ngeblock semua akun gue. Gue juga punya perasaan, Daff. Lo pikir hati gue nggak sakit? Lo pikir gue bisa hidup tenang setelah itu?"
"Enggar, jangan nangis..." ucapnya kemudian membawaku ke dalam pelukannya. Tangisku semakin pecah. "Lo jahat, Daff," ujarku di sela-sela tangisanku.
"Maaf, gue emang brengsek. Gue emang cowok nggak bener. Gue nggak pantes buat elo."
Kami pelukan selama beberapa menit, saat aku mulai sadar kondisi aku pun melepas pelukannya.
"Sebenarnya gue juga mau jelasin semuanya ke elo, tapi rasanya gue nggak sanggup. Lo juga mungkin nggak akan percaya sama gue."
"Seenggaknya lo harus mencoba jelasin itu ke gue, Daff. Jelasin sekarang."
Daffi menghela nafasnya. "Orang tua kita nggak bakal pernah setuju sama hubungan kita, Nggar."
"Kenapa?"
"Ibu gue sama ayah lo pernah main belakang."
"Hah? Nggak mungkin. Bukannya mama gue yang main belakang terus akhirnya orang tua gue cerai?" Kenyataannya seperti itu. Dulu yang aku tahu, penyebab ayah dan mama bercerai karena mama yang selingkuh. Aku dan Mbak Ninda sempat marah dan membenci mama, kami pun bersyukur hak asuh kami jatuh ke tangan ayah. Tapi setelah itu, hubungan kami dengan mama bisa berangsur-angsur membaik.
"Gue tau lo nggak bakalan percaya, Nggar. Jadi nggak perlu gue terusin ya?"
"Enggak. Gue masih pengen denger selengkapnya, Daff. Gue akan mencoba mencernanya." Dari ekspresi Daffi, tidak satupun aku menangkap tanda kebohongan disana. Oleh karenanya, aku mencoba mendengarkan penjelasannya.
"Ibu sama ayah lo dulu saling sayang, kayak kita. Nggak ada yang confess sampai akhirnya ibu gue dijodohin sama ayah gue oleh kakek dan nenek. Sebenarnya setelah itu baik-baik saja. Tapi kemudian, kakek gue menyuruh orang tua gue buat mendirikan rumah di deket rumah ayah lo setelah kelahiran gue. Gue nggak tau kapan pastinya ibu gue dan ayah lo memulai semuanya, tapi gue menebaknya dimulai saat kita kelas 6 SD. Orang yang pertama kali memergoki keduanya adalah ayah gue. Tapi ayah nggak pernah menyebarkan semua itu kepada orang-orang karena menurutnya itu aib. Hanya ibu lo yang ayah kasih tau. Meskipun hati ayah hancur, ayah memilih untuk mempertahankan ibu dan memberi ultimatum kepada ibu buat menyudahi hubungannya dengan ayah lo. Tapi beda sama ibu lo. Ibu lo memilih buat menceraikan ayah lo. Tapi ibu lo juga berprinsip sama dengan ayah gue buat nggak nyebarin perselingkuhan itu ke orang-orang. Malah, kata ayah gue, ibu lo pura-pura selingkuh dengan orang lain agar bisa melancarkan perceraiannya. Dan menurut gue itu masuk akal karena sampai sekarang ibu lo nggak pernah menikah lagi kan? Sementara itu, ayah gue berusaha keras meminta pihak perusahaan untuk memindahkannya ke cabang luar kota. Alhamdulillah meskipun butuh waktu yang agak lama, akhirnya permintaan ayah gue terkabul dan akhirnya gue sekeluarga pindah ke luar kota."
Aku... aku bener-bener nggak tau harus apa... Aku hanya bisa menangis... Mungkin lebih ke menyesal karena aku dulu sempet benci sama mama? Tangisku semakin deras. Hingga Daffi pun kembali membawa aku ke pelukannya.
"Enggar, janji sama gue setelah ini jangan benci ayah lo. Itu masa lalu, Nggar. Gue bisa menjamin hubungan ayah lo dan ibu gue udah berakhir. Jangan kasih tau Mbak Ninda juga ya?"
Aku tak bisa menjawabnya. Aku hanya bisa menangis. Aku benar-benar merasa hancur.
"Itulah yang buat gue akhirnya memilih untuk confess ke elo, Nggar. Tapi kemudian gue malah menghilang. Gue nggak mau kejadian antara orang tua kita terulang karena dulunya nggak sempet buat nyatain perasaan. Tapi di sisi lain gue pengen lo lupain gue, makanya gue lebih memilih untuk menghilang. Gue pengen lo dapat yang lebih dari gue. Gue sayanggggggggggggggg banget sama lo, Nggar. Gue cinta sama lo. Tapi gue nggak bisa. Ayah gue bilang untuk menjauhi lo. Ibu gue pun demikian. Gue nggak mau menentang keduanya."
"Gue pengen menghilang selamanya dari elo, tapi gue nggak bisa. Gue masih pengen lihat lo dan mastiin lo baik-baik aja. Setelah bergelut dengan diri sendiri, akhirnya waktu itu gue memutuskan buat muncul kembali dengan ngefollow akun lo. Gue juga memberanikan diri buat minta nomor wa lo. Gue sebenarnya pasrah dan nggak berharap lebih untuk lo followback dan ngasih nomor lo ke gue, namun kenyataannya lo melakukannya. Gue takut. Gue nggak pengen membuat lo seakan berharap lagi. Makanya gue milih buat pacaran sama orang lain bertepatan dengan gue memberanikan diri buat follow akun lo. Jujur itu kali pertama gue pacaran sama cewek. Alasan gue gonta-ganti cewek karena sebenarnya nggak ada yang gue suka. Gue hanya menjadikan mereka tempat pelarian gue. Gue marah dan cemburu waktu gue tau lo akhirnya punya pacar waktu itu. Tapi akhirnya lega setelah lo nggak lama pacaran sama dia. Tapi gue nebak lo dan dia putusnya nggak baik-baik. Gue khawatir apa dia telah menyakiti elo atau bagaimana? Gue nggak tau. Gue sebenarnya pengen banget tau alasan lo putus, tapi gue bisa apa. Setelah itu gue memutuskan untuk nggak pacaran lagi karena gue nggak mau menyakiti cewek lain lagi. Sampai akhirnya lo punya pacar lagi, yang sekarang, yang katanya Daffa bisa bikin lo sangat bahagia. Gue memberanikan diri buat tanya ke Daffa tentang sosok pacar lo yang sekarang. Gue pun memutuskan buat berusaha ngelupain lo karena gue menilai lo udah cukup bahagia dengan pacar lo sekarang. Tapi kayaknya gue kena karma. Gue mulai suka sama seorang cewek tapi belum sempet gue tembak, eh dia malah mau nikah duluan. Malang banget kan nasib gue. Tapi gak apa-apa. Yang penting lo bahagia, Nggar."
"Satu lagi, gue pengen cerita masalah Daffa. Sebenarnya gue tau dia suka sama lo dari lama. Tapi dari kecil gue selalu bilang ke dia jangan pernah deketin lo karena lo itu milik gue. Jahat kan gue? Tapi setelah gue pergi, gue minta Daffa buat deketin lo. Tapi lo jangan mikir kalau persahabatan lo dengan Daffa dan teman-temannya itu terpaksa karena gue yang minta ya. Justru Daffa yang bilang dia sebenarnya udah punya rencana buat deketin lo, tapi sebagai teman karena dia nggak sanggup lihat lo sendirian. Daffa juga akhirnya nyerah untuk suka sama lo karena menurutnya lo memandang dia sebagai gue. Lo bahkan dulu sering salah manggil dia Daffi, kan?"
"Nggar, terakhir. Gue cuma mau lo bahagia setelah ini. Lupain perasaan lo ke gue. Gue mau kita sahabatan lagi, tapi tanpa ada perasaan lebih. Mau ya, Nggar?"
Enggak, Daff. Justru setelah kamu menjelaskan semua ini malah membuatku kembali membuka perasaanku. Kepalaku rasanya penuh. Aku nggak tau harus bagaimana. Aku juga masih punya Kak Agung. Dia juga tulus menyukaiku. Benar kata Daffa, dia telah membuatku sangat bahagia.
Tapi biarkan kali ini aku memeluk Daffi lebih lama. Aku sangat merindukannya. Akhirnya ketidakjelasan selama ini terpecahkan. Aku hanya bisa berharap yang terbaik untuk semuanya. Apa yang terbaik itu, berarti aku harus melupakan perasaan ini pada Daffi?
Ini Daffi yang tampilannya urak-urakan



Comments
Post a Comment