Skip to main content

Pulangnya Mas Diaz

  Tulisan ini didedikasikan untuk Clara Kinanthi Resyakila.





"Kok bisa sih lo gak pernah cemburu sama Clara?" adalah pertanyaan yang Juno lontarkan ke gue sore itu. Waktu itu posisinya gue, Juno, dan juga Pilar lagi nongkrong bareng. Biasanya sih ada Enggar, tapi semenjak dia pacaran sama Kak Agung alias kakaknya Pilar jadi jarang ngumpul bareng.

Tadi kita bahas itu. Juno dan Pilar sama-sama setuju kalo mereka di posisi Kak Agung akan melarang Enggar sering-sering ngumpul sama kita. Katanya, sedeket apapun cewek sama cowok tetep akan ada probabilitas untuk saling suka. Sementara gue nggak setuju dengan opini mereka karena bagaimanapun Enggar lebih dulu deket sama kita. Jujur, gue kangen Enggar. Dia selalu bisa cairin suasana. Yang pada akhirnya Pilar tanya apa gue nggak cemburu kalo Clara—pacar gue deket-deket sama sahabat cowoknya. Gue jawab enggak, kemudian Juno memberikan pertanyaan seperti yang udah gue sebutin di awal.

Gue emang selama ini nggak terlalu mengekang Clara karena gue percaya sama dia. Apalagi Mas Chakra alias kakaknya itu selama ini udah terlalu banyak ngekang dia. Waktu Clara bilang dia beberapa kali chat sama Malvin—mantan pacarnya, gue bilang gpp dan nggak cemburu. Toh Malvin juga punya pacar—Anggi, yang nggak lain adalah kembarannya Enggar. Emang kita semua disini saling berhubungan ya, wkwk.

Lagipula juga Clara cerita nggak pernah pacaran kecuali sama Malvin dan sekarang sama gue. Mas Chakra sebegitu ngekang dia sampe naksir cowok aja dilarang. Baru bisa luluh waktu Clara suka sama Malvin. Padahal sebelumnya, Clara udah suka sama gue tapi sayangnya waktu itu Mas Chakra belum luluh dan gue sendiri masih punya pacar waktu itu. Gue bisa pacaran sama Clara aja melewati banyak rintangan—99% rintangannya dari Mas Chakra.

Gue sayang banget sama Clara. Dia cerita kalo nggak suka dikekang dan pengen bebas. Makanya selama ini gue selalu ngebebasin dia meskipun tetap ada maksimal batas yang untungnya Clara pahami.




Sampai akhirnya kakak laki-laki gue pulang. Namanya Mas Diaz. Selama ini dia kerja di luar kota, dulu kuliah di STAN. Dia emang cerdas banget dari kecil sampe bikin gue insecure. Bahkan walaupun dia kuliah di STAN, tapi dia jago banget pemrograman. Gue yang kuliah di jurusan IT tentu tambah insecure. Untungnya orang tua gue nggak nuntut gue buat jadi kayak Mas Diaz. 

Mas Diaz ngambil cuti dan pengin pulang ke rumah niatnya refreshing. Gue ngerti banget dia baru ketimpa musibah. Calon istrinya dipenjara karena dui. Gak kebayang sih kalo gue ada di posisinya Mas Diaz.

Banyak yang kaget waktu lihat kakak gue itu. Gue emang kayaknya nggak pernah nyeritain dia ke circle gue yang sekarang—keluarga gue juga baru pindah kesini beberapa tahun yang lalu, Mas Diaz udah merantau ke luar kota pokoknya. Mas Diaz juga jarang pulang, jadi ya nggak heran. Semuanya pada bertanya ini itu tentang Mas Diaz. Termasuk pacar gue, Clara.

Ya gue pikir kepulangan Mas Diaz ini nggak akan ada hubungannya sama pertanyaan Pilar dan Juno sore itu. Tapi setelah diobservasi, kayaknya gue salah ya? Awalnya sih Clara cuma tanya-tanya biasa kayak yang lain. Gue juga nggak bakalan ngira Clara sama Mas Diaz kenapa-kenapa, age gap mereka aja 5 tahun.

Tapi Clara jadi sering ke rumah. Gue nggak kepikiran apa-apa, mungkin dia emang lagi pengen sering berkunjung ke rumah. Waktu itu gue juga lagi pusing-pusingnya garap program buat lomba. Ya meskipun kelompok, tapi tetep aja pusing. Gue bahkan nggak sempet ngajak ngobrol Clara di rumah. Jadi selama Clara di rumah gue nggak tau Clara ngapain aja. Gue pikir bakal ngobrol atau masak sama Mama. Tapi ternyata gue salah. Gue memergoki Clara banyak menghabiskan waktu sama Mas Diaz dan mereka berkutat sama laptopnya Clara. Nah gue aja bahkan baru tau kalo Clara ke rumah bawa laptop. Gue penasaran banget dan pengin nyamperin, tapi gue selalu lagi zoom sama temen-temen sekelompok gue bahas program yang nggak beres-beres ini. Setelah Clara pulang pun gue masih tetep berkutat sama program. Gue nggak ada waktu buat tanya ke Mas Diaz. Lagipula kita enggak sedeket itu. Gue juga nolak bantuan Mas Diaz buat nyelesain program ini. 

Sampe waktu itu di rumah cuma ada gue, Clara, dan beberapa pesuruh rumah gue. Papa gue kerja kayak biasanya, sementara Mama dan Mas Diaz lagi belanja ke mall. Nggak tau kenapa akhir-akhir itu gue agak cuek ke Clara. Mungkin karena saking pusingnya mikir program atau karena gue... gue... gue... cemburu? 

Bentar. Gue beneran cemburu sama Clara? Gue cemburu lihat Clara deket sama Mas Diaz alias kakak gue sendiri?

Gue pengin tanya ke Pilar atau Juno atau Enggar tentang masalah ini—meskipun pastinya diketawain habis-habisan. Sayangnya gue enggak bisa—nggak ada waktu. Waktu itu gue emang sesibuk itu.


Lagi pusing mikirin syntax biar program nggak error, eh Clara malah nyamperin gue. Dia manggil gue kayak biasanya. Sayangnya gue yang nggak biasa....

Gue bentak dia...

Mampus.

Beneran gue bentak. 

Pertama kali—dan gue harap ini terakhir. Bisa abis gue sama Mas Chakra. Sisi lain diri gue juga enggak tega bentak cewek kesayangan gue itu.


Clara tampak terkejut. Matanya sampe berkaca-kaca. Dia pun langsung balik badan dan bilang enggak jadi. Tapi suaranya bergetar.

Gue ngeblank.

Tanpa pikir panjang, gue peluk dia dari belakang...

Romantis kan?

Nggak, tapi ini bukan saatnya mikirin romantis atau enggaknya.

Clara malah nangis kejer...

Gue nggak tega.

Gue pun berusaha bikin suara selembut mungkin dan ngomong maaf ke dia.

Dia juga malah minta maaf.

Tambah nggak tega.


Gue pun akhirnya ngajak dia duduk di sofa kamar gue. Beberapa waktu hening. Baik dia ataupun gue nggak ada yang buka suara.


Sampai akhirnya dia buka laptopnya—gue nggak sadar kalo dia tadi bawa laptop. Dia tampak ngotak-ngatik sesuatu. Kemudian, dia nunjukkin deretan syntax yang diketik rapi di Editor MATLAB.

Kira-kira kayak gini:

L = 2.5; N = 40;
M = [0:(N/2) (-N/2):(-1)]';
clf; kx = 2*pi*M/L;
[Kx,Ky,Kz] = meshgrid(kx,kx,kx);
x = -L/2:L/N:L/2;
[X,Y,Z] = meshgrid(x,x,x);
Phi = 2-(2*X.^2 + Y.^2 + Z.^2 -1).^3 + 0.2*X.^2.*Z.^3 + Y.^2.*Z.^3;
Phihat = fftn(Phi);
gam = 0.01*(-Kx.^2-Ky.^2-Kz.^2);
t1 = 0:0.05:1;
t1 = [t1 fliplr(t1) t1 fliplr(t1) t1 fliplr(t1) t1 fliplr(t1) t1 fliplr(t1)];
clf;
set(gcf,'color','w');
t = 1;
Phi = ifftn(Phihat.*exp(gam*t1(t)));
isosurface(Phi,2);
lighting phong;
colormap([1 0 0]);
axis([0 N+N/4 0+-10 N+N/4 0 N+N/4]);
view(-63,12); box off;
grid on
set(gca,'XTick',[],'YTick',[],'ZTick',[],...
    'xcolor','w','ycolor','w','zcolor','w')
drawnow;
pumpAmplitudeScaleFactor = 0.04;
for ii = 1:0.5:50
    zoomval = 1+pumpAmplitudeScaleFactor*sin(ii);
    zoom(zoomval)
    pause(0.05)
end


Gue speechless. Gue bahkan nggak tau kalo Clara install software MATLAB di laptopnya. Gue... Gue nggak tau kudu ngerespon apa ke Clara.

Kemudian Clara cerita kalo selama ini dia belajar coding ke Mas Diaz. Dia pengin kuliah kayak gue. Dia juga pengin bisa bantuin gue kalo gue lagi pusing masalah syntax.

Asli dah, gue pengin nangis saat itu juga. Tapi gue gengsi dong hehe. Gue pun minta maaf ke Clara. Gue banyak salah sama Clara akhir-akhir itu. Gue cuekin dia, gue cemburuin dia, bahkan gue sampai bentak dia. 

Walaupun Clara bilang dia maafin gue—bahkan dia juga minta maaf ke gue. Tapi gue tetep ngerasa salah dan gagal. Cowok emang sering matahin janjinya sendiri, tapi gue sebagai cowok, gue akan berusaha memperbaiki diri dan nggak mengulangi lagi sikap gue akhir-akhir ini ke Clara.

I love you tan90°, Clara.




Pesan yang dapat dipetik dari cerita gue ini adalah: tetap teguh pendirian, jangan mikir yang enggak-enggak, dan selalu luangin waktu meskipun sebentar untuk pasangan kalian. Oh iya sama jangan gengsi dan tetep akur sama saudara sendiri.

Btw kalo ada yang kepo hasil runningan syntax-syntax yang diketik Clara di atas:
 (Bisa buat bahan buat dikasih ke doi nih wkwk)






Oh iya hampir lupa. Makasih buat Mas Diaz yang udah mau ngajarin Clara. Maaf udah berpikiran macam-macam. Semoga lo bisa nemu kebahagiaan lo setelah ini, Mas. Sebentar lagi lo balik ke pekerjaan lo disana, hati-hati dan jangan lupa pulang kembali. Gue harap kita bisa deket suatu saat nanti.






---


<3


--






Comments

Popular posts from this blog

Struktur Aljabar dan Teman-Temannya

  Di antara temen-temen sekosan, aku paling kagum sama Fajar. Enggak, bukan berarti aku suka sama dia. Aku masih suka sama Adit kok, hehe. Aku juga kagum sama Adit. Sama Rian juga kagum. Sama Agung, Bima, Keshya, Hanin, Yuni, dan Farah juga kagum. Tapi balik lagi, rasa kagumku ke mereka kalah sama rasa kagumku ke Fajar. Khususnya kagum dengan kepandaiannya dalam bidang matematika yang tak lain dan tak bukan adalah jurusan kami. Dia tuh pinternya nggak ngotak. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa dia nggak kuliah di luar negeri aja sih? Udah pasti diterima tuh. Oh ya kayaknya aku perlu deskripsiin dia dulu dan bagaimana kita bisa kenal deket. Jadi namanya Muhammad Fajar Prayogi, biasa dipanggil Fajar atau Yogi. Yang namanya Fajar nggak hanya satu di angkatan kami, makanya selain teman sekelasnya memutuskan untuk manggil dia Yogi biar nggak ketuker sama Fajar satunya. Ya untung duo Fajar itu nggak pernah satu kelas. Nggak kayak aku. Maksudnya di angkatan kami yang namanya Widya ada 5, b...

Mas Daffa dan Kebiasaannya

 Tulisan ini menceritakan tentang kebiasaan Mas Daffa yang paling enggak aku suka. Bagi orang yang kenal deket sama Mas Daffa pasti udah hafal sama satu kebiasaan paling mencoloknya. Tak lain dan tak bukan adalah.... TIDUR SEMBARANGAN. Kalo kata Kak Upil (Kak Pilar) pelor. Statement ini kalo kata Mas Daffa nggak bakal bisa langsung divalidasi tanpa pembuktian. Oke buktinya bisa lihat di bawah. Bukti: TUH LIHAT. Dan perlu dicatet bahwa itu belum semua foto aku keluarin. Dilihat-lihat 90% isi fotonya Mas Daffa di hpku tuh foto dia lagi tidur. Serius!!! Bayangin sepelor apa dia. Duduk bentar aja udah ketiduran. Sebelas dua belas sama Jelita. Pernah tuh kemarin waktu double date sama Jelita dan Kak Pilar, Mas Daffa dan Jelita sama-sama ketiduran di mobil pas baru nyampe lokasi. Kebetulan yang nyetir Kak Upil waktu itu. Ya udah deh diem-diem aku sama Kak Upil jalan-jalan sendiri dulu WKWKWK (ssst jangan bilang ke mereka ya!). Nah terus pas tidur tuh dia selalu dengkur. Tapi bukan masal...