Di antara temen-temen sekosan, aku paling kagum sama Fajar. Enggak, bukan berarti aku suka sama dia. Aku masih suka sama Adit kok, hehe. Aku juga kagum sama Adit. Sama Rian juga kagum. Sama Agung, Bima, Keshya, Hanin, Yuni, dan Farah juga kagum. Tapi balik lagi, rasa kagumku ke mereka kalah sama rasa kagumku ke Fajar. Khususnya kagum dengan kepandaiannya dalam bidang matematika yang tak lain dan tak bukan adalah jurusan kami.
Dia tuh pinternya nggak ngotak. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa dia nggak kuliah di luar negeri aja sih? Udah pasti diterima tuh. Oh ya kayaknya aku perlu deskripsiin dia dulu dan bagaimana kita bisa kenal deket. Jadi namanya Muhammad Fajar Prayogi, biasa dipanggil Fajar atau Yogi. Yang namanya Fajar nggak hanya satu di angkatan kami, makanya selain teman sekelasnya memutuskan untuk manggil dia Yogi biar nggak ketuker sama Fajar satunya. Ya untung duo Fajar itu nggak pernah satu kelas. Nggak kayak aku. Maksudnya di angkatan kami yang namanya Widya ada 5, bener-bener 5. Tiga diantaranya termasuk aku satu kelas dari semester 1, baru mulai semester 4 kemarin ada satu Widya (bukan aku) yang pindah kelas. Aku jadi harus rela dipanggi Difa sama yang lain meskipun aku kurang suka dipanggil begitu. Omong-omong mengenai nama panggilan, sebenarnya aku dan teman-teman sekosan punya panggilan sendiri. Fajar sendiri dipanggil 'Yong'. Nggak ada yang tau filosofi nama panggilan Fajar ini, karena dari kami memilih nama panggilan yang sama dengan panggilan dari kecil dari ortu yang kalau ditanya artinya apa kebanyakan udah pada lupa.
Aku sama Fajar sebenarnya nggak pernah satu kelas, pernah sih tapi cuman di kelas mata kuliah wajib fakultas yang isinya satu angkatan dan dulu kebanyakan diadakan online. Aku kenal Fajar kayaknya dari awal-awal pengumuman SNMPTN dan gabung ke grup angkatan. Tapi dulu cuma sekedar tau nama aja dan aku masih inget dulu aku yang nyuruh Fajar ngesave nomorku.
Terus di semester 3 kalo nggak salah, Fajar tiba-tiba nyamperin aku dan bilang mau lihat catatanku. Dari situ aku mulai kenal dekat sama Fajar. Karena dia nggak hanya sekali dua kali lihat catatanku. Sebelum-sebelumnya aku udah denger desas-desus kalo Fajar ini pinter banget dan aktif di kelas. Dulu juga sempat ada satu mata kuliah yang kalo nggak salah adalah Geometri diadakan satu angkatan, nah aku tau sendiri dia aktif banget. Pertanyaan dan jawaban yang dia utarakan tuh berbobot semua. Tapi dia nggak pernah nyatet di kelas, mungkin itu yang bikin dia minjem catetanku. Padahal beberapa dosen kami beda, tapi ya gapapa. Aku bersyukur dari situ bisa kenal deket sama Fajar. Aku sama dia juga jadi sering diskusi dan belajar bareng, tapi nggak hanya berdua kok. Biasanya ada Keshya, Rian, dan Adit hehe.
Sampai akhirnya di semester 4 kemarin aku dan Fajar satu kosan bersama dengan Adit, Rian, Keshya, Agung, Hanin, Bima, Yuni, dan Farah. Tentang gimana kita bisa satu kosan kayaknya nggak perlu diceritain disini. Ada part tersendiri wkwk. Walaupun kosnya campur cewek-cowok, tapi kita beda lantai kok. Lantai 2 buat cewek, lantai 3 buat cowok, sementara lantai 1 punya bapak dan ibu kos. Bapak kosnya itu adiknya salah satu dosen kami yang juga merangkap jadi guru matematika SMA, makanya nama kosnya kos kalkulus. Ya pokoknya meskipun campur, tapi kami semua nggak pernah sampai aneh-aneh kok. Seriusan.
Kalau diingat-ingat kayaknya aku belum pernah berduaan sama Fajar. Hingga waktu itu, aku duduk di kursi depan gedung lama untuk menunggu Adit selesai kelas sembari membaca ulang materi yang baru disampaikan dosen tadi. Tiba-tiba Fajar datang.
"Ca," panggilnya kemudian duduk di sampingku yang kebetulan kosong. Caca adalah nama panggilanku di depan anak kosan.
"Eh Yong. Udah selesai kelas?"
"Udah dari tadi. Ini baru selesai diskusi sama Pak Riski." Pak Riski adalah nama salah satu dosen kami.
"Wah. Diskusi apa tuh?"
"Rahasia, wkwk. Lo sendiri ngapain disini? Nungguin Mamo?" Kalau Mamo itu nama panggilannya Adit.
"Iyaa ini nungguin Mamo," jawabku.
"Kok bisa ya kalian pacaran tapi nggak satu kelas terus. Lo malah kelasnya campur-campur dan bareng Iyun, Yuyun, Heli, sama Bonyok." Iyun nama panggilan Rian, Yuyun nama panggilan Yuni, Heli nama panggilan Keshya, dan Bonyok nama panggilan Agung wkwk. Nggak usah heran. Anyway iya kelasku sama mereka berempat campur antara A dan C, tapi nggak ada yang B alias kelasnya Fajar (dan juga Farah). Nggak tau ya kemarin sama mereka tuh cuma milih kelas random yang nggak bentrok jadwalnya. Eh dapetnya A dan C.
"Gue pacaran sama Mamo baru menjelang finalisasi krs kemarin Yong. Mau ganti kelas juga susah soalnya udah pada full. Lagian nggak enak sekelas sama pacar tuh, susah fokus. Ya kan?" Ya begitulah faktanya. Aku sama Adit nggak satu circle dulu.
Fajar cuma manggut-manggut. Mungkin relate juga. Soalnya----(ah nggak mau kasih spoiler wkwk).
"Btw Yong, gue mau nanya boleh nggak?" Tiba-tiba aku keinget sesuatu.
"Of course."
"Lo tau nggak esensi belajar struktur aljabar, analisis real, dan sejumlah matkul abstrak lain di dunia nyata itu apa? Aslian gue gedeg banget sama matkul-matkul abstrak itu."
Fajar malah ketawa. "Eh kenapa Yong? Gue nggak ngelawak perasaan."
"Gapapa. Lucu aja, tanya begitu tapi nilai lo selalu A di matkul-matkul abstrak itu."
"Kok tau? Lo ngehack akun sister gue ya?"
"Kagak, Ca. Ya tau aja dari dosen hehe."
Oh? Kok?
"Lo tuh pinter banget loh Ca. Dosen-dosen sering ngomongin elo."
"Lo juga pinter banget, Yong. Pinteran elo malah."
"Anyway Ca. Lo masih butuh jawaban dari pertanyaan lo tadi nggak?"
"Ya masih lah Yong. Kalo nggak butuh ngapain gue tanya."
"Wkwkwk. Jadi menurut buku yang pernah gue baca, matematika murni itu nggak bisa disambungin sama dunia nyata. Struktur aljabar dan teman-temannya itu termasuk matematika murni, ca. Matematika murni itu tentang kebenaran dan keindahan. Makanya banyak teorema disana."
Belum sempat aku menanggapi ucapan Fajar, Adit ternyata datang menghampiri kami. Adit berbasa basi dulu pada Fajar. Kemudian dia berpamitan untuk membawaku pergi ke gramedia sesuai dengan perjanjian awal kami. Aku juga turut berpamitan. Tetapi aku sebenarnya masih mencerna jawaban Fajar. Keindahan dan kebenaran, katanya? Tapi iya juga ya? Dimana lagi aku menemukan istilah epsilon, delta, kernel, koset, homomorfisma, subgrup, subgrup normal, monomorfisma, isomorfisma, dan lain sebagainya selain disini?
"Tadi ngomongin apa sama Yong?" tanya Adit tiba-tiba.
"Bukan apa-apa kok."
"Aku sempet denger ada nyebut matematika murni tadi." Adit sepertinya penasaran sekali.
"Kepo, ya?" tanyaku sedikit menggoda.
"Yaudah kalo nggak mau kasih tau, aku nggak maksa."
Aku hampir tertawa. "Ciyeee, apa kamu cemburu ya? Beneran bukan apa-apa kok mamo sayang." Kemudian aku menceritakan tentang pertanyaan yang aku tanyakan beserta jawaban dari Fajar.
"Kok kamu nggak tanya ke aku?"
"Kamu mah kalo aku tanya begitu, pasti jawabnya setiap ilmu itu pasti ada gunanya caca sayangggg. Gitu kan?" tanyaku sembari memperagakan suara Adit.
"Hehehe, tau aja caca sayang."
"Dasar mamo jelek."
"Iya caca yang cantik."
Aku tersenyum kecil. Ada satu kesimpulan yang dapat aku tarik. Intinya, aku semakin kagum dengan Fajar tetapi aku juga semakin sayang dengan Adit. Hehehe. Udah gitu aja dulu, bye.
Comments
Post a Comment