Kalau ada yang nyuruh aku buat deskripsiin Chakra.... Chakra itu kayak operasi perkalian dan pembagian dengan bilangan satu. Yang mana semua bilangan yang dikali atau dibagi dengan satu hasilnya tetap bilangan itu sendiri. Begitupula dengan Chakra. Maksudnya, Chakra itu keras kepala dan tetap teguh dengan pendiriannya. Meskipun banyak orang yang sudah memperingatkannya dengan berbagai pertimbangan, dia tetap kekeuh dengan apa ia yakini. Bahkan diperingatkan oleh orang-orang terdekatnya sekalipun. Dia juga orang yang nggak mau kelihatan lemah di hadapan yang lain. Dia selalu pengen nunjukkin ke semua orang kalo dia itu bisa dan mampu. Lebih-lebih kalo dia diberi kepercayaan.
Baru-baru ini aku dibingungkan oleh kedatangan Clara dengan wajah khawatir dan hampir menangis. Ketika aku tanyai ada apa, dia justru memelukku erat dan tangisnya pecah. "Kacang, mbak..." Aku sedikit terkejut. Kira-kira apa yang terjadi pada Kacangnya Clara alias Chakra?
"Chakra kenapa, Clar?"
"Kacang bandel... Udah dibilang jangan berangkat, tapi tetep berangkat." Clara kemudian melepas pelukannya dariku. "Kacang lagi nggak enak badan akhir-akhir ini, mbak. Bahkan tadi tuh pucet dan lemes banget, tapi dia tetep kekeuh berangkat ke kampus." Oh ya memang Chakra hari ini telah izin mau ke kampus--meskipun hari minggu karena katanya ada kegiatan. Kalo nggak salah dia jadi koordinator sie perlengkapan di kegiatan itu. Kemarin juga katanya ada gladi bersih dan setting tempat hingga harus pulang tengah malam dan oleh karenanya Chakra bilang bakal jarang ngasih kabar. Tapi dia sama sekali nggak bilang kalo dia nggak enak badan... Tapi aku tidak terkejut karena dia selalu begitu. Tidak pernah menyeritakan kondisinya kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Aku menyalahkan diriku sendiri karena akhir-akhir ini aku juga disibukkan dengan urusan kuliah sehingga tak sempat bertemu dengan Chakra, video call sekalipun.
"Astaga... Chakra sakit? Sakit apa? Dia itu selalu keras kepala.." keluhku pada Clara.
"Nah itu, Mbak. Kacang nolak ke dokter padahal dia sampe batuk-batuk, kemarin lusa bahkan demam. Kemarin tuh dia sebenarnya masih demam, tapi tetep maksa berangkat karena katanya nggak enak sama yang lain, apalagi dia CO. Pulang tengah malem tadi aja sempoyongan. Udah dibilang apa nggak takut dia kalo sampe dirawat? Tapi ya gitu kacang. Emang kacang pikir kalo dia sakit, papa sama mama bakal peduli? Terakhir pas aku sakit dan masuk rumah sakit aja mamah malah ngancem jangan sakit lagi karena bikin repot," cerita Clara panjang lebar sembari sesekali menangis. Aku nggak sanggup kalo Clara udah cerita mengenai orang tua mereka. Selama aku jadi pacarnya Chakra, cuma sempet sekali ketemu mamanya. Itupun nggak begitu lama. Tapi dari situ aku bisa menyimpulkan kalo orang tua mereka tidak begitu mempedulikan anak-anaknya. Terlebih Clara. Chakra sempat bercerita kalo keluarganya kurang suka anak perempuan, apalagi kakek nenek dari pihak papanya. Selama ini yang ngerawat Clara itu Chakra, dibantu oleh pengasuh yang dipekerjakan orang tuanya. Nasib mereka emang malang.
Aku cuma bisa menggigit bibir dan mendo'akan semoga Chakra nggak kenapa-napa.
Tapi do'aku nggak terkabul. Adam alias teman kuliah Chakra menelfonku dan mengatakan kalau Chakra pingsan dan dibawa ke umc (semacam klinik gratis untuk mahasiswa di kampus). Clara buru-buru menelfon Daffa--pacarnya untuk menyuruh menjemputku dengannya kemudian bergegas ke umc.
Singkat cerita aku, Clara, dan Daffa udah sampe di umc. Alhamdulillahnya Chakra udah sadar. Ketika sampe, kita bertiga disambut oleh kakak tingkatnya Chakra yang wajahnya ketus banget. Dia seangkatanku, aku tau namanya tapi nggak akan aku sebut. "Bilangin pacar lo dong, kalo sakit-sakitan mending nggak usah ikut kepanitiaan. Bikin repot semua orang aja," ucapnya dengan penuh sarkas. Emosiku meledak. Pengen aku timpalin, eh dia udah kabur duluan. Clara tampak mengepalkan tangannya, sementara Daffa tampak mau mengejarnya tapi aku cegah. "Biarin aja udah Daff, nggak enak ribut disini."
Aku pun mempersilahkan Clara untuk menemui Chakra duluan. Sementara aku dan Daffa menunggu di luar. "Toxic banget dah itu orang, Mbak. Untung gue kemarin nolak diperbudak mereka. Tapi kasihan Mas Chakra juga." Daffa satu jurusan sama Chakra, sepertinya dulu dipaksa ikut kepanitiaan yang Chakra ikuti sekarang. Chakra waktu itu juga sempet cerita kalo dia sebenarnya juga dipaksa. Enggak cerita secara cuma-cuma sih, lebih tepatnya aku paksa cerita.
"Ya begitulah kehidupan kampus, Daf. Semoga lo dijauhkan dari orang-orang kayak gitu."
"Aamiin. Makasih mbak."
Beberapa menit kemudian, Clara keluar dan mempersilahkanku menemui Chakra. Katanya Clara akan mengajak Daffa untuk membelikan Chakra sarapan. Astaga... berarti Chakra belum sarapan dari tadi?
"Chak..." panggilku ketika masuk dan melihat Chakra yang sedang terbaring. "Aku gpp kok, kak," ujarnya. "Bohong banget," ujarku. Dia diem abis itu.
"Chak... ini yang terakhir kan?" tanyaku. "Maksudnya, kak?" balasnya balik tanya. "Kamu nggak akan sakit lagi, kan?" Dia mengulum bibir. "Aku nggak sakit kok, kak."
"Sebelumnya jangan tersinggung ya, Chak. Ada beberapa hal yang pengin aku utarain ke kamu." Nada bicaraku berubah menjadi serius. Chakra tampak sedikit terkejut. Mungkin dia baru mendengar nada bicaraku yang demikian. "InsyaAllah kak, ada apa?"
"Sebelumnya aku mau tanya, kamu sayang kan sama orang-orang di sekitar kamu? Kayak aku, Clara, atau bahkan Daffa?" Ia mengangguk. "Kalau dibanding Clara, aku emang bukan siapa-siapa. Tapi aku harap kamu bisa dengerin dia, apalagi kalau dia udah ngelarang kamu. Aku tahu kamu bukan orang yang suka dilarang-larang, kamu juga nggak mau kelihatan lemah di depan orang lain. Tapi itu semua demi kebaikan kamu, Chak. Bukannya kasihan sama kamu, tapi justru peduli sama kamu. Nggak hanya Clara, aku juga atau mungkin yang lain. Gimana perasaan kamu kalo misal kamu lihat Clara lagi sakit tapi dia nggak mau kamu bawa ke dokter atau bahkan minum obat pun nggak mau? Padahal yang kamu lihat dia udah lemes banget?"
Chakra cuma diem. Kayaknya dia masih butuh waktu buat mencerna semuanya. "Oh ya. Aku mau kamu jujur, sebenarnya di kepanitiaan ini atas kemauan kamu sendiri atau dipaksa?"
"Dipaksa, kak," jawabnya lirih. Aku sebenarnya nggak bakal ngira dapat jawaban dari dia, biasanya pacarku itu hanya diam. "Tapi ini yang pertama dan terakhir, kok." Sepertinya dia akan melanjutkan kalimatnya lagi. "Maaf kak..." Eh? "Sebenernya aku juga nggak mau berangkat hari ini, kak. Tapi kalo aku nggak berangkat, pasti anggota-anggotaku yang disalahin. Aku nggak enak sama mereka, apalagi Adam yang udah banyak bantu aku selama ini. Ya meskipun pada akhirnya aku malah pingsan dan pasti mereka pada nyalahin aku."
"Maaf kalau aku terlalu keras kepala dan nggak mau terbuka dengan kakak," ujarnya kemudian. Aku nggak tau harus berbuat apa. Entah siapa yang membisikiku, aku pun memeluk Chakra begitu saja. Aku juga mengatakan tidak apa-apa untuk merespon ucapan Chakra sebelum-sebelumnya. Aku dengannya jarang physical touch. Banyak yang bilang pacaran dengan Chakra itu bakal membosankan. Katanya Chakra tsundere, nggak bisa perhatian, ya pokoknya yang jelek-jelek pokoknya. Walaupun aku nggak semuanya salah, tapi aku nggak pernah mengindahkan ucapan mereka. Apalagi banyak yang membandingkan Chakra dengan mantan-mantanku, yang kadang sampai membuatku emosi. Mereka nggak tau saja kalo Chakra itu berbeda. Perhatiannya beda. Kebanyakan dia selalu memperhatikan aku diam-diam.
Aku nggak tau seberapa lama kami pelukan. Chakra membalas pelukanku--yang nggak aku sangka-sangka dan nggak ada yang mau melepas pelukan. Ini bukan yang pertama bagi kami, tapi ini yang terlama. Sampai akhirnya Clara dan Daffa tiba-tiba datang dan langsung pura-pura terbatuk. Kami pun segera melepas pelukan. Aku malu banget, tapi aku senang. Aku nggak pernah menyangka Chakra si keras kepala bisa seperti ini. I love you, Chak...
Comments
Post a Comment