Skip to main content

Posts

Mas Daffa dan Kebiasaannya

 Tulisan ini menceritakan tentang kebiasaan Mas Daffa yang paling enggak aku suka. Bagi orang yang kenal deket sama Mas Daffa pasti udah hafal sama satu kebiasaan paling mencoloknya. Tak lain dan tak bukan adalah.... TIDUR SEMBARANGAN. Kalo kata Kak Upil (Kak Pilar) pelor. Statement ini kalo kata Mas Daffa nggak bakal bisa langsung divalidasi tanpa pembuktian. Oke buktinya bisa lihat di bawah. Bukti: TUH LIHAT. Dan perlu dicatet bahwa itu belum semua foto aku keluarin. Dilihat-lihat 90% isi fotonya Mas Daffa di hpku tuh foto dia lagi tidur. Serius!!! Bayangin sepelor apa dia. Duduk bentar aja udah ketiduran. Sebelas dua belas sama Jelita. Pernah tuh kemarin waktu double date sama Jelita dan Kak Pilar, Mas Daffa dan Jelita sama-sama ketiduran di mobil pas baru nyampe lokasi. Kebetulan yang nyetir Kak Upil waktu itu. Ya udah deh diem-diem aku sama Kak Upil jalan-jalan sendiri dulu WKWKWK (ssst jangan bilang ke mereka ya!). Nah terus pas tidur tuh dia selalu dengkur. Tapi bukan masal...

Pembulatan ke Atas

Gue mau cerita. Ada cerita lucu waktu gue belum jadian sama Anggi. Perlu ditekankan, gue sama Anggi udah deket dari SMA--meskipun statusnya partner in crime--, jadi gue sama dia nggak ada proses pdkt. Gue ngerasa kayak gue bisa tiba-tiba aja jadian sama dia, seriusan.  Oke jadi ceritanya gue sama dia ikut kepanitiaan olimpiade di kampus, bahkan dalam satu sie yang sama yaitu tim soal. Olimpiadenya tuh olimpiade matematika buat jenjang SD, SMP, dan SMA. Dari 30 anggota tim soal, dibagi-bagi jadi 3 tim yang 1 timnya terdiri dari 10 orang untuk masing-masing jenjang. Nah gue sama Anggi jadi 1 tim, yaitu tim jenjang SMA. Anggi jadi penanggung jawab tim, istilahnya gue jadi anaknya dia wkwk.  Singkat cerita waktu itu udah masuk babak semifinal. OH IYA GUE LUPA JELASIN. Jadi olimpiadenya ini dibagi jadi 3 babak, yaitu penyisihan, semifinal, sama yang terakhir final. Babak penyisihan sama semifinal dilaksanakan online (pake web) sementara babak final offline. Ketiga babak itu pun bed...

Selamat Bertambah Usia, Enggar Lingkaran

 Teruntuk perempuan yang gue cintai setelah Mama gue, Gue enggak tau mau nulis apa aja ke elo. Gue bukan orang yang puitis yang pandai merangkai kata-kata. Gue sebenernya malu buat nulis ini. Tapi gue pengen, jadi gue tetep bakal nulis ini meskipun gue nggak tau tulisan ini bakal gue kasih ke lo apa enggak, hehe. Sebelumnya sorry, gue bakal pake kata ganti gue-lo disini, karena seperti yang udah gue tulis tadi, gue malu dan ngerasa agak cringe kalo nulis pake aku-kamu.  Enggar, nama lo unik, cantik dan imut--sangat mendeskripsikan diri lo di mata gue. Terima kasih karena elo udah lahir di dunia ini. Terima kasih juga kepada orang tua elo, terutama ibu elo yang udah melahirkan elo dengan selamat. Terima kasih juga kepada Tuhan karena tanpa kehendak-Nya lo ga bakalan ada di dunia ini. Terima kasih juga karena elo udah hadir dalam kehidupan gue dan berhasil memberikan warna baru dalam hidup gue. Terima kasih karena elo udah mau menerima gue dengan segala kekurangan gue. Gue sayan...

Pulangnya Mas Diaz

  Tulisan ini didedikasikan untuk Clara Kinanthi Resyakila. "Kok bisa sih lo gak pernah cemburu sama Clara?" adalah pertanyaan yang Juno lontarkan ke gue sore itu. Waktu itu posisinya gue, Juno, dan juga Pilar lagi nongkrong bareng. Biasanya sih ada Enggar, tapi semenjak dia pacaran sama Kak Agung alias kakaknya Pilar jadi jarang ngumpul bareng. Tadi kita bahas itu. Juno dan Pilar sama-sama setuju kalo mereka di posisi Kak Agung akan melarang Enggar sering-sering ngumpul sama kita. Katanya, sedeket apapun cewek sama cowok tetep akan ada probabilitas untuk saling suka. Sementara gue nggak setuju dengan opini mereka karena bagaimanapun Enggar lebih dulu deket sama kita. Jujur, gue kangen Enggar. Dia selalu bisa cairin suasana. Yang pada akhirnya Pilar tanya apa gue nggak cemburu kalo Clara—pacar gue deket-deket sama sahabat cowoknya. Gue jawab enggak, kemudian Juno memberikan pertanyaan seperti yang udah gue sebutin di awal. Gue emang selama ini nggak terlalu mengekang Clara k...